Sabtu, 16 Maret 2013

PENGERTIAN LONDE (Pantun Toraja)


Menurut Kamus Toradja – Indonesia 1972, arti Londe adalah: pantun, ma’londe: berpantun; silonde; berbalas-balasan berpantun. Jadi pengertian Londe adalah pantun tradisonal khas orang Toraja. Tujuan Londe adalah untuk mengungkapkan pikiran (pandangan tentang sesuatu hal), mengungkapkan perasaan, memberikan ajaran, memberi nasehat, memberikan semangat, dll.

Londe (pantun) dikomunikasikan atau disampaikan dengan intonasi tertentu dengan menggunakan bahasa sastra khas toraja. Susunan kata-kata Londe diwariskan secara turun-temurun sehingga dengan mudah dihafal dan diungkapkan secara spontan oleh yang sering melakukan londe. Bahasa sastra yang digunakan adalah bahasa yang mudah dimengerti dan berkesan santai namun bersifat metaforik.

Pada umumnya sebuah Londe terdiri dari 4 (empat) baris:
Baris I (pertama)terdiri dari: 8 (delapan) suku kata,
Baris II (kedua) terdiri dari: 7 (tujuh) suku kata,
Baris III (ketiga) terdiri dari: 5 (lima) suku kata,
Baris IV (keempat) terdiri dari: 7 (tujuh) suku kata.

Ketentuan tersebut memungkinkan Londe dapat dilantunkan dengan diintonasikan tertentu dengan gaya bahasa khas Londe (Pantun Toraja). Selain diungkapkan dalam bentuk pantun, susunan kata-kata dalam Londe sering juga digunakan dalam syair lagu dalam melagukan berbagai jenis musik nyanyian khas tradisional Toraja, seperti: Pa’Marakka, Pa’Sailo’, Pa’ Anduru’ Dalle, dll.

Seperti pada umumnya yang menimpa karya sastra tradisional di Indonesia akibat pengaruh kuat modernisasi, karya satra Toraja-pun seperti Londe sudah jarang dilakukan karena dianggap ketinggalan zaman.

Contoh: Londe (Pantun Toraja)

Tempon nene’ todolota
Nasilonde-londemo
Make’ totemo
Dikka’mo kamalingan.

Bunga-bunga lamban lian
Panden nabala salu
Kumpangko mai
Angku rande pala’ko

Alla’ko kagereng-gereng
Lako manuk lundara
Manda’ rompona
Bintin balabatunna

Mukkunko mambaya bubun
Usseroi turunan
Anna lenduk tau
Umpembore-borei

Garangki lembang sura’
Lopi dimaya-maya
Latanai sola dua
Umpamisa’ penaa

Bu’tu allo sae uran
Untuang kinallomu
Tumbari iko
Muma’koko kalepak

Misa’ kada dipotuo
Dipatorro marampa’
Pantan kadaki’
Diposisala-sala

Tondok ballo tu tondokta
Senga’ tampa rupanna
Nasimbo-simbo
Darinding kaanglean
 
Pustaka:
A.T. Marampa’,  Sastra Budaya Toraja
J.B. Lebang, Londe-londena Toraya
J. Tammu dan H. Van der Venn, Kamus Toradja-Indonesia 1972

Kamis, 14 Maret 2013

PENGERTIAN KARUME (Teka-teki Toraja)



Menurut Kamus Toradja – Indonesia 1972, Karume atau Karrume berarti teka-teki, ma’karume: berteka-teki; sikarume: saling berteka-teki. Karume adalah teka-teki khas Toraja, biasanya dilakukan bila menjelang istirahat di malam hari atau pada saat beristirahat kerja di siang hari.

Karume merupakan media untuk mendorong daya pikir, mengasah otak, mendorong kreatifitas anak dalam membuat teka-teki baru serta memperluas wawasan terutama tentang realitas disekitarnya. Karume menjadi sarana perkembangan diri bagi anak-anak Toraja pada zaman dahulu. Sikarume (saling berteka-teki) merupakan suatu kegiatan yang yang menarik terutama oleh anak-anak, dianggap sebagai kegiatan rekreasi yang mengundang canda dan tawa karena kadang jawabannya terasa lucu dan tidak terpikirkan sebelumnya. Karume pada setiap kampung biasanya berbeda susunan kata-katanya tapi maksudnya sama.

Namun pada zaman modern ini Sikarume (berteka-teki) sangat jarang sekali dilakukan oleh anak-anak Toraja terutama yang tinggal di kota mengingat semakin banyaknya hiburan lain yang lebih menarik seperti televisi, permainan game, internet, handphone, dll.

Contoh: Karume-rume Toraya (Teka-teki Toraja)
1. To siruran dao langi’ Tangsipeta’daan uainna (Orang yang berketurunan diatas langit tidak saling meminta airnya)
Jawab: Bua kaluku (buah pohon kelapa)
2. Ta’pian mellolok kayu (sekam berpucuk kayu)
Jawab: Daun buangin (Daun kayu cemara Toraja)
3. Mentioangan tangmamara (Berteduh tapi tidak kering)
Jawab: Lila (Lidah)
4. To kia’tang soro’ boko’ (Orang hamil bergeser/berjalan mundur)
Jawab: Bi’ti’ (Betis)
5. To bukku’ to bukku’ unnondoi liku (Orang bungkuk orang bungkuk mengoyangkan palung sun gai/danau)
Jawab: Pekan (Pancing)
6. Suke sembang rundu’ salu (Tabung bambu yang ujungnya terpotong miring mengikuti air)
Jawab: Suso (siput)
7. To lusau’ to lurekke sirenden asu busa’na (orang yang ke selatan orang yang ke utara memegang anjing putihnya
Jawab: uai sola burana diong salu (air bersama busanya di sungai)
8. Sangeran ditoke’ toke’ mema’tik matikan elo’ (Batu asa digantung-gantung melelehkan air liur)
Jawab: Pao dao lolokna (buah mangga di pohon)
9. Toena’ kunukkun (Peganglah supaya kumenyelam)
Jawab: Petimba uai (Timba air)
10. Toena’ kualangko (Peganglah supaya kuambilkan
Jawab: Pesumpa’ (Gala penjolok buah)
11. Mengkalaokan kemakale’ ta’pa dio randan langi’ (Turun waktu pagi langsung berada di pinggir langit)
Jawab: Mata mentiro (mata melihat)
12. Kusaile anna marira kudi’pu’ anna manaran (Kulirik ternyata liar kupungut ternyata jinak)
Jawab: Talinga (telinga)
13. Sare piona nene’ku tangdilambi’ didangkanni (Celana kain compang-capingnya/koteka nenekku tak terjengkali/terukur)
                 Jawab: Lalan (jalan)
14. Indo’ lai’ diong to tallang metamba-tamba laboko (Ibu di bawah rumpun bambu berteriak-teriak akan mencuri)
                 Jawab: Kaduaya/kadoya (burung gagak)

Pustaka: 
A.T. Marampa’,  Sastra Budaya Toraja
J.B. Lebang, Karume-Rumena Toraya
J. Tammu dan H. Van der Venn, Kamus Toradja-Indonesia 1972

Kamis, 17 Januari 2013

KUPU-KUPU BEREKOR PANJANG BANYAK DI TEMUKAN DI TORAJA


Kupu-kupu berekor panjang (Ngengat Bulan Toraya) atau Torayan Moon Moth, dengan nama ilmiah Actias Isis ternyata banyak terdapat di Toraja. Setelah ditemukan dua ekor di lokasi yang berbeda seperti yang telah diuraikan di posting sebelumnya (baca: TORAYAN MOON MOTH), ditemukan lagi 2 ekor kupu-kupu berekor panjang, namun hanya 1 ekor yang dapat diselamatkan karena 1 ekor lagi termakan oleh kucing. Hanya beberapa potongan sayapnya yang diselamatkan dengan warna utama Coklat terang + kuning tua atau warnanya hampir mirip dengan penemuan sebelumnya. Sedang yang satunya warnanya sedikit lebih cerah atau berwarna terang: coklat + kuning kehijauan. Kupu-kupu berekor atau Actias Isis tersebut ditemukan di kampung Panuli – Lembang Sarambu – Kecamatan Buntu Pepasan – Kabupaten Toraja Utara – Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 20 September 2012 sekitar pukul 19.00 WITA.

Seperti penemuan pertama (posting: TORAYAN MOON MOTH) penemuan kali ini ditemukan pada malam hari terbang dibawah cahaya lampu listrik. Hanya warnanya berbeda, Actias Isis penemuan pertama dominan berwarna coklat sedangkan penemuan kedua dominan berwarna kuning. Perbedaan yang lain yaitu bentuk sayap, Actias Isis yang pertama bentuk sayapnya relatif ramping sedang penemuan kedua relatif gemuk. Selain itu ada perbedaan dalam ukuran sayap dimana penemuan pertama panjang sayap lebih panjang dari pada lebar sayap sedang penemuan pertama sebaliknya dimana lebar sayap lebih panjang daripada panjang sayap.

CIRI-CIRI DAN UKURAN:
Bentuk utama: Mirip kupu-kupu yang berekor panjang
Bentuk kepala: Mirip kupu-kupu
Antena: dua buah berbentuk sisir dan berwarna kuning
Warna utama: Kuning kehijauan, ekor warna coklat kemerahan
Panjang = 15,7 cm
Lebar  = 17,3 cm (lebih panjang)
Panjang ekor = 9,5 cm
Panjang badan = 3,9 cm

SCIENTIFIC CLASSIFICATION:
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Insecta
Order: Lepidoptera
Family: Saturniidae
Genus: Actias
Species: A. isis
Binomial name Actias isis
Lokasi penemuan: Panuli – Sarambu – Kec. Buntu Pepasan, Kab. Toraja Utara
Penemu : G. G. Toban, 20 September 2012

Pada waktu yang hampir bersamaan di lokasi yang berbeda di dalam kompleks Rumah Sakit Elim di kota Rantepao ibukota kabupaten Toraja Utara ditemukan juga seekor Ngengat Bulan Toraya atau Actias Isis  oleh pegawai Rumah Sakit Elim Rantepao.

Secara sederhana, kupu-kupu dapat dibedakan dari ngengat alias kupu-kupu malam berdasarkan waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di siang hari (diurnal), sedangkan ngengat kebanyakan aktif di malam hari (nocturnal). Kupu-kupu beristirahat atau hinggap dengan menegakkan sayapnya, sedang ngengat hinggap dengan membentangkan sayapnya. Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang, ngengat cenderung gelap, kusam atau kelabu. Meski demikian, perbedaan ini selalu ada perkecualiannya (lihat warna penemuan kedua) warnanya lebih cerah, sehingga secara ilmiah tidak dapat dijadikan pegangan yang pasti. (van Mastrigt dan Rosariyanto, 2005). Selain itu dibandingkan dengan kupu-kupu dan nyamuk/lalat, ngengat lebih tahan terhadap obat pembasmi serangga.

Ngengat adalah serangga yang berhubungan dekat erat dengan kupu-kupu, kedua-duanya termasuk ke dalam Ordo Lepidoptera. Perbedaan diantara kupu-kupu dan ngengat terdapat pada taksonomi. Kadang nama "Rhopalocera" (kupu-kupu) dan "Heterocera" (ngengat) digunakan untuk membedakan mereka. Banyak usaha telah dilakukan untuk membagi ordo Lepidoptera menjadi kelompok seperti Microlepidoptera dan Macrolepidoptera, Fenatae dan Jugatau, atau Monotrysia dan Ditrysia. Kegagalan dari nama ini untuk tetap berada pada penggolongan modern karena tidak ada dari penggolongan tersebut merepresentasikan sepasang kelompok monofiletis. Pada kenyataannya, kupu-kupu adalah kelompok kecil yang muncul dari ngengat. Kebanyakan spesies ngengat beraktifias pada malam hari, namun ada juga yang beraktifitas pada petang dan pagi, serta ada sebagian kecil yang beraktifitas pada siang hari.