Senin, 20 Februari 2012

ABJAD DAN EJAAN BAHASA TORAJA

Berbicara tentang komunikasi tidak bisa lepas dari berbicara tentang bahasa. Hanya dengan bahasalah manusia berkomunikasi dan mempertukarkan pikiran, perasaan, menerima dan memahami perbuatan satu sama yang lain. Oleh karena itu, apa yang manusia lakukan, bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka hidup dan berkomunikasi, merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Proses pertukaran pesan dan informasi menggunakan bahasa berpotensi mendatangkan kesalahpahaman persepsi akan arti sebenarnya. Berbahasa yang efektif akan dicapai apabila pihak-pihak yang terlibat dalam suatu komunikasi memberikan arti dan makna yang sama terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan menggunakan symbol yang sama. Penggunaan symbol atau tanda yang sama merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses komunikasi antara individu atau kelompok yang terlibat dalam komunikasi.

Seperti halnya orang Toraja oleh para antropolog dikategorikan sebagai bangsa Melayu Tua. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa yang unik, dialeknya banyak mengandung bunyi glotal. Susunan abjad yang terdapat dalam bahasa Toraja jika diteliti dengan seksama mempunyai ciri khas sebagai suku bangsa yang berbudaya Melayu Tua. Ciri itulah yang membedakan bahasa Toraja dengan bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia. Huruf dan tanda tersebut adalah:
a  b  d  e  g  h  i  j  k  l  m  n  o  p  r  s  t  u  w  y
Jadi huruf yang tidak dijumpai dalam bahasa Toraja adalah:
c  f  q  v  x  z
Selain itu tanda (sign) yang sangat menentukan keberhasilan berkomunikasi dalam bahasa Toraja adalah:
tanda (hamzah).

Tanda ‘ (hamzah) dikenal sebagai tanda hambat glotal dalam ortografi bahasa Arab; (nomina). Ortografi n gambaran bunyi bahasa yang berupa tulisan atau lambang; sistem ejaan suatu bahasa. Glo·tal n Ling bunyi yang dihasilkan oleh celah pita suara (glotis) tertutup; bunyi hamzah

Seperti halnya bahasa Arab, bahasa Torajapun banyak mengandung bunyi yang dihasilkan oleh celah pita suara (glotis) tertutup. Karena itu dalam penulisan latin menggunakan tanda ‘ (hamzah) bukan huruf k apalagi q. Jika tanda hamzah ( ‘ ) diganti dengan huruf k atau q akan menimbulkan berbagai kekeliruan. Jika menggunakan k atau q , maka yang berbahasa Toraja akan sulit membedakan lafal kata-kata yang memakai huruf k apalagi huruf q, terutama kata-kata yang sama tulisannya dan berlainan lafal ejaannya sehingga artinya berlainan pula.
Contoh:
- ara’ = dada, arak = kerahkan
- bati’= keturunan, batik= belalang
- lamma’ = meresap, lammak = benam, terbenam
- tana' = patok, tanak= rebus.
Namun sekarang sangat disayangkan, oleh beberapa orang yang mengaku ahli bahasa Toraja yang dipelopori C. Salombe’, J. Sande, dkk, 1997. Malah menerbitkan Tata Bahasa Toraja yang sekarang sudah dikenal di dunia. Menggantikan bunyi glotal (tanda hamzah) menjadi huruf q dalam penulisan ejaan bahasa Toraja termasuk dalam beberapa buku dan tulisannya. Dalam Ejaan Indonesia dan Latin, bunyi q sama dengan bunyi: Al-Qur'an, taufiq, Istiqlal, dll. Jika bunyi q seperti itu digunakan dalam berbahasa Toraja maka dapat dipastikan akan terjadi kesalahpahaman dalam berbahasa Toraja. Hal itulah yang diikuti oleh banyak peneliti bahasa daerah di Indonesia maupun di dunia kecuali orang yang sehari-harinya berbahasa Toraja. Akibatnya menyebar informasi yang keliru tentang bahasa Toraja yang termasuk unsur kebudayaan Toraja didalamnya ke seluruh dunia. Yang lebih tragis dari itu, terjadi kesalahpahaman yang sangat fatal yang membingungkan bagi orang Toraja sendiri sebagai penuturnya. Sehingga dapat dipastikan orang Toraja gagal berkomunikasi menggunakan bahasanya sendiri. Tingkat kesalahan berkomunikasi yang terjadi akan lebih dari 30% (berdasarkan jumlah kata dalam Kamus Toraja – Indonesia 1972) sesuai dengan persentase bunyi glotal dalam bahasa Toraja.

Memang di dalam Abjad Latin tidak terdapat satu huruf yang mempunyai bunyi yang sama persis bunyinya dengan tanda hamzah ( ‘ ) dalam bahasa Arab termasuk bahasa Toraja. Itulah sebabnya di dalam mentranskripsikan bunyi bahasa Arab ke huruf-huruf Latin menggunakan tanda hamzah ( ‘ ), misalnya Al-Qur'an, Ta'ala, Isra’ Mi’raj’, Sya’ban, dll. Transkripsi demikian dikenal oleh ahli bahasa di seluruh dunia yang menterjemahkan bahasa Arab melalui huruf-huruf Latin, misalnya di dalam Terjemahan Al-Qur'an, Kamus Arab-Inggris dan buku-buku dunia yang resmi.

Seperti halnya bahasa Arab, bahasa Torajapun tidak terdapat satu huruf yang mempunyai bunyi yang sama persis bunyinya dengan tanda hamzah ( ‘ ). Itulah sebabnya J. Tammu dan Dr. H. van der Veen menggunakan tanda hamzah dalam terjemahannya. Tanda hamzah diterima baik oleh penuturnya (orang Toraja) tanpa kesulitan dalam penuturannya sampai sekarang, bahkan dipakai dalam penulisan Alkitab Bahasa Toraja (Sura’ Madatu). J. Tammu adalah orang Toraja asli dan Dr. H. van der Veen ahli bahasa dari Belanda yang diutus oleh Nederlands Bijbelgenootschap melakukan penelitian bahasa Toraja dan tinggal di Toraja dari tahun 1916-1955. Mereka mengerti betul bahwa tanda hamzah sangat sesuai dengan bahasa Toraja. Beberapa buku yang ditulisnya yang menggunakan glotal ( ‘ ) antara lain:

  • Iate Soera' dinii melada' mbasa Soera'; penulis:  H. van der Veen, A. Patana', L. Toban, J. Sampe Toding. Penerbit: Nederlandsch bijbelgenootschap, 1924
  • Leesboek in de Tae'taal (Z. W. Selebes); penulis:  H. van der Veen, A. Patana', L. Toban, J. Sampe Toding. Penerbit: Nederlandsch bijbelgenootschap, 1924
  • TAE’ (Zuid – Toradjasch); disusun: Dr. H. van der Veen. Penerbit: Nederlandsch Woordenboek, 1940
  • Sura' Madatu; penerjemah: dusun: H. van der Veen. Penerbit: Lembaga Alkitab Indonesia, 1960
  • Kamus Toradja – Indonesia; disusun: J. Tammu dan Dr. H. van der Veen. Penerbit: Jajasan Perguruan Kristen Toradja di Rantepao, 1972
Di Indonesia pun ahli bahasa menggunakan tanda hamzah dalam penerjemahan Arab ke abjad latin. Lalu kenapa C. Salombe’, J. Sande, dkk, mengganti tanda hamzah menjadi huruf q dalam bahasa Toraja? Jawabnya itu sudah merupakan kesepakatan oleh para ahli bahasa-bahasa daerah se- Sulawesi Selatan dalam di dalam suatu seminar. ???
Contoh kesalahpahaman yang terjadi jika menggunakan ejaan Toraja versi C. Salombe’, J. Sande, dkk, 1997, adalah:

  • Tana’i tu padangmu = Patoklah itu tanahmu. Jika tanda ‘ (hamzah) diganti q maka: Tanaqi tu padangmu. Jika dibaca menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, maka berarti: Rebuslah itu tanahmu. Jadi kata: Patoklah berubah menjadi: Rebuslah.
  • Bati’na tu ngaraganni banua melo = Keturunannya yang membuatkan rumah bagus. Jika tanda ‘ (hamzah) diganti q maka menjadi: Batiqna tu ngaraganni banua. Jika dibaca menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, maka berarti: Belalangnya yang membuatkan rumah bagus. Jadi kata: Keturunannya berubah menjadi: Belalangnya.
Dari kedua contoh diatas, maka sangat jelas bahwa penulisan ejaan bahasa Toraja yang mengganti tanda hamzah ( ‘ ) menjadi q akan menimbulkan kesalahpahaman yang sangat serius bagi orang Toraja sebagai penuturnya. Sangat bertolak belakang dengan pendapat Meltzer tentang pengertian bahasa (Rumondor,1995:114), bahwa: bahasa adalah seperangkat lambang yang telah dibakukan, yang penafsirannya dimiliki secara bersama oleh para warga masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Bahasa adalah simbol-simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia melalui suatu kata atau rangkaian kata yang diberi suatu makna, sehingga dapat menerangkan dunia empirik atau nyata.

Seorang yang ahli tanpa sadar bisa membuat kesalahan dalam bidang keahliannya sendiri namun jangan sampai dengan sadar membuat kesalahan dalam bidang keahliannya. (GG Toban).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar